From Beirut to Jerusalem

25 Agu

cover edisi terbaru

Ingin merekomendasikan buku bagus….

Akhir pekan kemarin saya sekeluarga jalan-jalan ke Bintaro Plaza ( sekedar info jalan2 ke BePe berarti = ke Gramedia ).

*Maaf Allah…maaf Ramadhan…sebenarnya saya merasa bersalah pada bulan menimba ibadah seperti ini harus pergi ke tempat seperti ini…*

Langsung menuju ke bagian novel…menyapu pandangan dari satu novel ke novel yang lain – saya lebih suka novel yan non fiksi sejenis memoar- …dan suami tersayang menunjukkan satu novel dari bagian rak “New Arrival”. Dan ketika saya baca sekilas judulnya langsung merajuk untuk minta dibelikan novel tersebut.

FROM BEIRUT TO JERUSALEM

“Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel. Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa orang Palestina adalah manusia. Kebodohan dan prasangka telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina. Buku ini adalah kesaksianku.”

Mulanya, karena latar belakang religinya, dr Ang Swee Chai adalah pendukung Israel. Di matanya orang Palestina adalah teroris. Namun pada 1982, Israel menyerang Beirut dengan brutal. Keyakinannya pun mulai goyah.

Ia putuskan untuk membuktikan sendiri dengan menjadi sukarelawan medis di Beirut. Disana, di kamp pengungsian Palestina, setelah menjadi saksi pembantaian Sabra-Shatila, akhirnya ia temukan jawaban. Ia erbalik arah memhak rakyat Palestina, memihak keadilan, dan kemanusiaan. Di tanah asing ia pertaruhkan nyawanya untuk membela orang-orang yang tak punya hubungan darah maupun etnis dengan dirinya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai dokter, sebagai manusia.

==========

cover edisi lama

Sebenarnya novel ini sudah terbit cukup lama. Di Malaysia sudah dicetak sejak tahun 2002 dengan judul asli “ Tears of Heaven from Beirut To Jerusalem”. Di Indonesia diterbitkan oleh Mizan dan cetakan pertama pada tahun 2006, sedangkan cetakan kedua pada tahun 2007. Yang sedang saya baca sekarang merupakan edisi baru cetakan pertama Agustus 2010 (pantesan saya gugling  gambar cover yang terbaru belum juga ketemu…akhirnya saya scan saja  novel saya).

Mengisahkan tentang pengalaman dr Ang Swee Chai seorang dokter spesialis orthopedik beretnis Cina yang lahir di Malaysia-dibesarkan di Singapura-kini tinggal di Inggris semasa menjadi relawan medis di daerah konflik bangsa Palestina-israel di Lebanon.

Setelah membaca ¾ bagian novel (maaf…seharusnya saya menyelesaikan dulu membaca baru meresensikan) kesimpulan yang saya ambil…buku ini sangat menyentuh…saya bisa menangis sesenggukan membaca detil peristiwa yang dialami oleh saudara-saudara muslim kita di Palestina.

Dr Ang menggambarkan setiap peristiwa dengan begitu detilnya, sampai-sampai ada bagian yang kita miris untuk membacanya. Terkadang saya seperti bisa membayangkan suasana yang terjadi di salah satu peristiwa yang ia tuturkan.

Yang jelas cerita yang dikisahkan oleh dr Ang semakin membuka mata saya akan siapa israel sebenarnya dan siapa bangsa Palestina sesungguhnya. Semakin takjub saya akan pribadi orang-orang Palestina. Keramahtamahan mereka, kesantunan mereka, sifat memuliakan orang lain, dan yang tak kalah penting semangat perjuangan mereka untuk merebut kembali hak mereka yang telah dirampas oleh israel.

Last…untuk mengetahui lebih lanjut kisah dr Ang dalam novel ini, silahkan menuju  toko buku terdekat…Sementara saya menyelesaikan dahulu ¼ bagian terakhirnya…..hehe…

5 Tanggapan to “From Beirut to Jerusalem”

  1. bundamahes 25 Agustus 2010 pada 4:25 am #

    pinjem ya ya ya….😉

    • rista 25 Agustus 2010 pada 4:29 am #

      halah…mesti uwong siji iki…sik ya…di khatamke sik….

  2. ummurizka 25 Agustus 2010 pada 7:11 am #

    Saya mau minjem terlalu jauh ni, yang baca juga belum kelar he….btw buku yang sangat bagus, pasti sangat mengharukan dan bisa membangkitkan ghirah kita untuk membantu sodara kita di Palestin walaupun hanya dalam setangkup doa untuk mereka..thanks

    • rista 26 Agustus 2010 pada 5:21 am #

      oo…sudah kelar ko mbak…
      hiks…hiks…semakin sedih mengetahui penderitaan bangsa Palestina yang diusir dari tanah airnya sendiri…
      betapa dunia hanya bisa bungkam dan tak mau peduli terhadap penindasan kejam yang masih terjadi sampai saat ini…
      semoga kita bisa melakukan hal-hal nyata untuk membantu mereka meskipun itu hal yang kecil…

    • pujohari 26 Agustus 2010 pada 6:35 am #

      kan, ada “cabangnya” disini bu? hwhwhwhhw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: