Seharusnya: Pasangan Kita= Prioritas Pertama Kita

19 Mei

*Sebelumnya judul di atas bukan bermaksud memposisikan pasangan kita menjadi yang pertama melebihi Allah, Rosul, dan orang tua (untuk seorang suami)

Suatu ketika seorang teman yang terkenal ramah, tidak pernah marah, suka bercanda, menghargai orang lain, dan masih banyak sifat positif lainnya sedang terlibat pembicaraan via telpon dengan istrinya. Si teman saya ini terlihat begitu seriusnya (saya tidak tahu apa yang dibicarakan karena memang tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan itu). Namun yang membuat saya terkejut adalah ketika semakin lama nada teman saya itu menjadi semakin serius (bahkan meninggi), kemudian sesekali menjawab dengan ketus. Saking tidak percayanya saya sampai berulang kali melirik ekspresi wajah teman saya ini. Apa dia sedang bercanda? Tapi tidak, ternyata memang raut wajah serius. Saya terkejut karena dia memang orang yang sangat ramah, banyak teman, memperlakukan orang lain dengan halus tapi ketika berbicara dengan istrinya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang hampir-hampir saya tidak mampu mempercayainya.    

Astaghfirullah, sungguh sangat disayangkan ketika kita menjadi sosok yang seperti itu. Dan memang sebagian besar orang terkadang menjelma menjadi sosok yang seperti itu . Ramah terhadap rekan kerjanya  tapi tidak kepada pasangannya, suka menebar senyum kepada relasinya tapi sering cemberut kepada pasangannya, berkata halus kepada atasan tapi ketus kepada pasangan. Sah-sah saja ketika kita bersikap baik, ramah, bertutur kata menyenangkan kepada rekan kerja, relasi, dan atasan karena memang kita harus membina hubungan yang baik guna kelangsungan pekerjaan kita (tapi harus tetap ikhlas melakukannya) yang tentu saja berkaitan dengan karir kita di dunia ini. Tapi yang sering kita lalaikan adalah bagaimana menghadirkan keramahan, senyuman, tutur kata yang halus kepada pasangan kita sebagai upaya membina suatu tujuan mulia sampai akhirat nanti (TIDAK TANGGUNG-TANGGUNG, SAMPAI AKHIRAT!). Kita sering meremehkan hal itu, padahal di awal-awal pernikahan saya yakin semua orang pasti memperlakukan pasangannya bak raja/ ratu. Disayang-sayang, bertutur kata sehalus mungkin,selalu tersenyum, saling bermanja-manja. Tapi karena sudah biasa (tiap hari ketemunya itu-itu melulu) dan sudah mengetahui baik buruk pasangan satu sama lain, maka sekali lagi semua itu dianggap menjadi BIASA. Segala manis-manis di awal pernikahan itu seolah-olah dilupakan.

Padahal sudah seharusnya pasangan kita memiliki prioritas yang lebih. Karena urusannya adalah membina “mitsaqon gholidzon” yang berujung sampai akhirat. Jadi sudah seharusnya kita juga senantiasa selalu mampu bersikap ramah, tersenyum, dan bertutur kata menyenangkan terhadap pasangan kita. Karena pasangan kita memang “lebih utama” dari rekan kerja, relasi, dan atasan kita

2 Tanggapan to “Seharusnya: Pasangan Kita= Prioritas Pertama Kita”

  1. bundamahes 19 Mei 2010 pada 2:54 am #

    aku wajib komen ga mbak?
    yen wajib komenku adalah “alhamdulillah suami saya ga pernah seperti itu”🙂

  2. rista 19 Mei 2010 pada 3:21 am #

    hehe…absen wae lah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: