Terkadang Kita lah(Orang Tua) yang Lebih Arogan

18 Mei

“ Kamu jangan nakal!!!”

“Jangan pernah bicara sekasar itu kepada orang tua!!!”

“Anak tidak tahu sopan santun!!! Tidak bisa menghargai orang tua!!!”

(dan masih banyak nasehat-nasehat lainnya)

Kalimat-kalimat serupa di atas pasti sering sekali kita ucapkan kepada buah hati kita. Namun yang sering saya lihat kalimat-kalimat tersebut di sampaikan dengan nada keras, membentak, bahkan terkesan mengancam. Apakah memang seperti itu yang seharusnya kita ucapkan? Kita sampaikan? Apakah tujuan dari nasehat tersebut? Untuk menyampaikan suatu pengajaran? Atau untuk melampiaskan emosi lewat perkataan??     

Sungguh saya miris ketika suatu saat mendapati seorang ibu yang sedang menasehati anaknya yang telah berbuat kurang sopan kepada orang tua. Ibu tersebut kemudian menasehati si anak dengan berbagai macam kalimat dan ungkapan yang menurut saya lebih mengarah pada pelampiasan amarah (mengingat sang ibu adalah orang yang paham agama, tapi sedih melihatnya mampu mengeluarkan kata-kata yng menyakitkan tersebut). Bahkan ada beberapa kalimat yang jelas-jelas membuat sakit hati (semisal saya yang jadi anaknya) untuk didengar. Saya tidak akan menuliskan kata-kata apa saja yang sudah diucapkan sang ibu kepada anaknya. Tapi yang ingin saya tegaskan adalah seperti itukah cara penyampaian sebuah nasehat? Harus dengan kata-kata kasarkah?? Harus dengan memberi ejekan kah?? Lalu apa tujuan penyampaian nasehat itu sendiri???

Ketika kita sebagai orang tua dengan tanpa bersalah mengatakan anak kita yang bersalah, anak kita yang tidak tahu sopan santun, anak kita yang sombong, dan sebagainya ditambahkan dengan ekspresi emosi dan nada tinggi… Lalu apa bedanya kita dengan anak kita yang telah kita katakan tidak tahu sopan santun, sombong, dan sebagainya itu?? Bukankah dengan kita menasehati sekasar itu maka kita juga kurang sopan santun? Tahukah kita jika kita dalam posisi sebagai anak tersebut maka yang kita petik bukanlah suatu nasehat bijak melainkan sakit hati?? Sakit hati karena menilai: “orang tua dengan arogannya bisa mengatai aku seperti itu padahal dia sendiri mendahulukan emosi dalam penyampaiannya…”

Lalu dimana beda kita sebagai orang tua yang patut menjadi panutan dengan anak nakal kita?? Apakah menjadi berbeda  karena “akulah orang tua…akulah yang benar”. Begitu kah??? Apakah itu tidak disebut arogan??

Maka sebagai orang tua hendaknya kita selalu berusaha memberikan panutan yang baik… Sudah sewajarnya sesekali anak kita membuat kesalahan dan membuat hati kita sakit karena anak kita memang manusia biasa (ingatkah dulu…apakah kita benar-benar tidak pernah menyakiti orang tua kita? Kita pasti juga pernah membuat orang tua kita sakit hati). Sesakit hatinya kita sebagai orang tua, seharusnya kita mampu tetap menunjukkan kita sebagai panutan yang terbaik.. Jika yang kita sajikan adalah emosi, nada tinggi, cibiran, dan semacamnya…maka kelak itu juga yang akan ditiru oleh anak kita. “Jika orang tua boleh kenapa aku tidak???”.

*saya sajikan dengan penuh istighfar, memohon ampun atas kesalahan saya sebagai anak dan sebagai orang tua…

2 Tanggapan to “Terkadang Kita lah(Orang Tua) yang Lebih Arogan”

  1. bundamahes 19 Mei 2010 pada 12:26 am #

    nice post, keep on writing!🙂

    • ahmmad 21 Mei 2010 pada 4:02 am #

      seru…..y…!!!
      membacanya………………….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: