BERLAKU BAIK TERHADAP PASANGAN: MEMIKUL SESUATU SEBAGAI TANGGUNG JAWAB BERSAMA

14 Mei

Sampai sekarang saya masih heran, bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh suatu pasangan ketika berencana menikah, kemudian mantap untuk mengikat diri dalam suatu ikatan yang kuat, setelah itu hamil dan akhirnya melahirkan buah hati mereka? Apakah pernikahan yang sudah sedemikian rapi direncanakan itu hanya terbatas pada perencanaan resepsi, kemudian menikmati bulan madu berdua, dan bagaimana caranya untuk bisa segera hamil?? Apakah hanya sekedar itu? Apakah kemudian mereka tidak berpikir tentang persiapan persalinan (termasuk biaya), persiapan pendidikan anak, dan kelangsungan hidup tua kelak? Apakah pernikahan itu hanya manis di awal namun setelah 6 bulan, 1 tahun, 5 tahun dan selanjutnya tidak diusahakan untuk selalu manis? Apakah ketika kita menemukan kekurangan pada pasangan kita lantas serta merta itu dijadikan penyesalan, sesuatu yang tidak bisa kita terima??   

Saya hanya mampu beristighfar, memendam gregetan dalam hati, dan hanya mampu berharap agar dihindarkan dari pasangan yang sedemikian ketika menerima komplen dari seorang suami pasien beberapa hari lalu. Seorang pasien rujukan dari bidan dengan kasus dugaan kelainan pembekuan darah. Si pasien yang hamil pertama dan sudah cukup umur usia kehamilan itu sudah merasakan kontraksi dan sudah mulai ada pembukaan (pembukaan 1).  Otomatis pasien tersebut dirujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih lengkap dari pada klinik praktek bidan tersebut. Rumah sakit sayalah yang akhirnya menjadi pilihan klinik tersebut. Si pasien dan suaminya diberikan gambaran biaya persalinan baik normal maupun Caesar (jika diperlukan) dengan catatan kemungkinan ada biaya tambahan akibat penyakit yang dideritanya tersebut. Sesampainya di rumah sakit si pasien dan suami juga sudah dijelaskan pemeriksaan penunjang (laboratorium) yang perlu dilakukan berserta estimasi biayanya. Namun ketika sampai malamnya pembukaan masih saja 1, dan kontraksi malah berkurang (otomatis juga setelah mendapatkan berbagai macam prosedur penanganan) akhirnya si pasien dan suami minta untuk dibawa pulang saja karena terlalu lama menunggu tidak segera lahir (padahal memang kita coba untuk lahir normal dulu yang notabene memang perlu masa observasi yang lama apalagi di kehamilan pertama). Maka setelah kita konsul ke dokter kandungan yang merawatnya dan sang dokter mengijinkan untuk pulang (tapi harus kontrol USG keesokan harinya) akhirnya kita membereskan perhitungan administrasi rawat inapnya. Setelah semua beres kita persilahkan si suami pasien tersebut ke bagian administrasi untuk pembayaran seluruh biaya perawatan. Tapi tak lama berselang saya berulangkali ditelepon oleh admission menanyakan berbagai macam tindakan yang sudah diberikan (si suami pasien komplen dengan biaya yang harus dibayar). Sampai akhirnya admission tersebut menyarankan si suami pasien itu untuk membawa rincian sementara ke unit saya agar saya menjelaskan lebih lanjut kenapa biaya laboratorium sampai sebesar itu.

Masuk ke unit saya tanpa salam sebelumnya (padahal sudah saya sambut dengan senyuman yang manis) si suami tersebut langsung menunjukkan rincian sementara perawatan.  Selanjutnya dia komplen dengan biaya pemeriksaan laboratorium. Dia merasa penjelasan awal tentang estimasi biaya laboratorium tidak sesuai dengan biaya akhir yang harus dia bayar.

Suami pasien :  “Mbak, tadi saya dijelaskan dengan perawat di sini kalau biaya pemeriksaan laboratorium nya sebesar 1 juta. Tapi kenyataannya kok 1 juta lebih?!?”

Saya               :  (sebelumnya saya melihat dulu rincian sementara tersebut, laboratorium: Rp 1.148.000). bapak…biasanya semua perawat di sini jika menjelaskan perkiraan tarif suatu tindakan pasti dengan kata-kata kurang lebih. Kurang lebih satu juta, kurang lebih sekian yang itu berarti bisa kurang dan bisa lebih”

Suami pasien : “Tidak!! Tadi saya dijelaskan fix cuma 1 juta! Makanya saya mau disuruh tanda tangan persetujuan pemeriksaan laboratorium! Eh…tiak tahunya harganya lebih dari 1 juta, bagaimana sih?!?”

Karena dia masih saja ngeyel meskipun saya sudah menjelaskan dengan berbagai macam penjelasan, akhirnya saya minta waktu sebentar untuk konfirmasi ke teman satu aunit saya yang menjelaskan biaya laboratorium tersebut. Saya memang sengaja telepon di depan suami pasien tersebut agar lebih jelas permasalahannya. Ternyata sesuai dugaan saya, teman saya sudah menjelaskan berungkali tentang perihal pemeriksaan dan estimasi biaya tidak lupa dengan kata-kata kurang lebih satu juta. Akhirnya setelah saya jelaskan lagi dan saya katakan kalau penjelasan teman saya sebelumnya itu bukanlah harga pasti tapi estimasi dia langsung terdiam. Sampai saya seolah-olah memerankan guru bahasa Indonesia yang mengajari suami tersebut untuk belajar perbedaan makna kata “satu juta” dengan “kurang lebih satu juta”. Namun tidak hanya berhenti di situ,si suami pasien tersebut masih saja mencoba mencari kesalahan dari rumah sakit sehingga dia coba tanyakan berbagai macam tindakan (yang semua memang kita lakukan) yang ada pada rincian tersebut. Namun yang membuat saya terperanjat (dan juga sakit hati) adalah ketika dia berucap “Belum lahiran saja sudah semahal ini….Gimana kalau lahiran nanti?!?? Tahu begitu saya tidak mau ke rumah sakit ini!!!” (kalimat yang sama juga diucapkan ke bagian administrasi). Hahh??? Please deh….bilang begitu setelah mendapat segala perawatan medis, plus pelayanan ramah penuh senyum? Bagaimana dengan penjelasan pra rawat tentang biaya dan dia sudah menyanggupi sebelumnya? Astaghfirullah… padahal dari penampilan dia dan istrinya terbilang orang yang cukup mampu (HP-nya Blackberry gitu loh…). Tapi memang aneh, setelah puas menghujat kami pada akhirnya si pasien tersebut (dan suaminya) ternyata balik lagi ke rumah sakit saya untuk operasi Caesar. Hello!!! Katanya mahal, tidak mau ke sini… hehe… mungkin dia sudah membanding-bandingkan pelayanan kami dengan rumah sakit yang lain dan ternyata mungkin mendapati pelayanan kami memang yang terbaik. Terbukti 2 tahun ini bertahan sebagai peringkat pertama rumah sakit sayang ibu se Jakarta Selatan (upps…maaf jadi promosi).

Tapi bukan permasalah di atas yang menjadi inspirasi tulisan ini. Melainkan peristiwa selanjutnya yang membuat saya semakin berpikir “Ohh guy?? Do you think u’re a good husband???” .Ketika dia sampai di kamar perawatan istrinya, dia langsung menyodorkan dengan kasar rincian tersebut di depan muka istrinya. Coba apa maksudnya?? Protes karena biaya semahal itu untuk perawatan pra persalinan istri yang sudah dihamilinya (yang pastinya dilakukannya dengan keadaan sadar)?? Protes kepada istrinya akibat biaya yang harus dibayar karena kelainan yang diderita istrinya?? Robbi!!! Padahal itu untuk kebaikan istri dan calon anaknya!! Dan padahal ini masih kehamilan pertama, lantas bagaimana dengan kehamilan kedua, ketiga, dan selanjutnya jika ada masalah? Apa selayaknya dia berlaku seperti itu kepada istrinya yang dulu (mungkin) dia nikahi dengan cinta kemudian baru diketahui memilki kekurangan?? Belum lagi ketika sudah pulang si istri dibiarkan membawa barang-barangnya sendiri. Astaghfirullah si istri tersebut dalam keadaan sudah berat menahan perut yang semakin besar, ditambah dengan kontraksi-kontraksi yang sudah mulai ia rasakan!!! Begitukah perlakuan terhadap istri yang sudah berpayah-payah hamil sekian bulan??? Padahal sudah seharusnya masalah kehamilan dan persalinan itu merupakan tanggung jawab bersama suami istri. Jangan lantas memberikan amanah itu penuh dipikul oleh istri. Sudah jasad mengandung, masalah materi pun dipermasalahkan. Bukankah ketika merencanakan kehamilan sudah seharusnya juga merencanakan kelahirannya??

Allah…kami memohon hindarkan kami dari pasangan sedemikian, jadikan kami istri yang selalu dimuliakan oleh suami…

Sudah seharusnya kita sebagai suami istri memperlakukan pasangan kita secara baik satu sama lain. Tidak hanya manis di awal pernikahan, tetapi juga harus senantiasa berusaha menyajikan yang manis-manis sampai hari tua nanti. Baik perkataan, sikap, perhatian, dan yang lain. Sedangkan pasang surut perbedaaan pendapat, pandangan, dan pikiran selayaknya dianggap sebagai kerikil kecil yang hendak mempermanis taman rumah tangga kita, jangan lantas dijadikan batu besar yang menghalangi perjalanan pasangan tersebut. Karena itu selalu berusaha berlaku baik terhadap pasangan menjadi bahan adonan yang ampuh untuk memaniskan rumah tangga tersebut.

“ Dan bergaullah kalian dengan para istri secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1162. Lihat Ash-Shahihah no. 284)

2 Tanggapan to “BERLAKU BAIK TERHADAP PASANGAN: MEMIKUL SESUATU SEBAGAI TANGGUNG JAWAB BERSAMA”

  1. bundamahes 16 Mei 2010 pada 1:46 pm #

    sekali lagi, untuuuuung bukan saya yang dihadapkan pada situasi di atas, na’udzubillah..

    • rista 18 Mei 2010 pada 3:15 pm #

      alhamdulillah…untung juga bukan saya…
      semoga kita terhindar dari pasangan yang demikian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: