> MENJADI WANITA KARIR JANGAN MELUPAKAN MADRASAH UTAMA

12 Apr

Tulisan ini dilatar belakangi jerit hati kecil saya yang meniti fitrahnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Mengingat seorang teman pernah mengekspresikan kegundahan hatinya yang sama seperti yang sedang saya rasakan dengan kalimat: “Hanya cerita seorang ibu pekerja yang sebenarnya lebih memilih menjadi ibu rumah tangga” (thanks ya Ika!). yah seorang ibu pekerja yang sebenarnya lebih memilih untuk berkhidmat di dalam rumah tangganya saja.

Sudah menjadi fitrah (bahkan kewajiban) jika seorang wanita harus mengutamakan perannya di dalam rumah tangga. Karena telah menjadi fitrah bagi sang lelaki untuk menghidupi keluarganya. Maka job desk ini dirasa sudah cukup adil. Namun tidak berarti seorang wanita tidak diijinkan berkhidmat untuk ummat yang membutuhkan sepak terjangnya di luar lingkup rumah tangganya. Asal berjalan seimbang, maka tidak ada masalah.

Ketika memutuskan untuk bekerja lagi setelah break selama kurang lebih sembilan bulan, maka saya memutuskan untuk kembali berkiprah di dunia luar. Pertimbangan saya saat itu adalah saya tidak mau kehilangan skill saya dalam touching pasien. Kerinduan yang menggebu-gebu ketika teringat bahagianya telah mampu menenangkan psikis pasien yang sedang kesakitan, perasaan puas dan penuh bangga setiap kali berhasil menusukkan jarum infus, perasaan lega setelah mampu menyelesaikan jahitan jalan lahir pasien bersalin, dan masih banyak kerinduan lainnya terhadp profesi saya. Ya, karena saya mencintai profesi saya.

Namun ketika kesempatan itu datang, tidak lama berselang ternyata saya merasakan penyesalan.      Harus meninggalkan putri kecil saya yang masih ingin bermanja-manja dengan saya. Sungguh berat sekali rasanya. Pada awal-awal kerja saya sering menangis ketika harus berangkat kerja dan meninggalkan putri saya dengan tangisannya yang seolah –olah mengatakan tidak rela saya meninggalkannya. Miris sekali rasanya ketika ingat masa itu. Namun apa pilihan saya? Saya masih susah melepaskan ego untuk rela kehilangan skill saya. Saya masih mencintai profesi ini. Maka jadilah saya masih bertahan sampai detik ini.

Mungkin beberapa tahun ke depan saya akan memutuskan untuk berkhidmat di dalam rumah saja. Terlebih jika Allah mengijinkan saya dan suami memiliki buah hati lebih dari tiga. Maka mungkin saya akan berani mengambil keputusan berada di rumah saja. Karena saya ingin membangun peradaban manusia-manusia penerus impian ayah ibunya yang mungkin belum sempat terealisasi. Ya disinilah madrasah utama bermula. Pembentuk akhlak seorang manusia. Saya akan lebih memilih jabatan sebagai seorang ibu rumah tangga biasa yang mampu menjalankan kewajibannya daripada posisi tenar di luar sana. Saya akan lebih memilih mampu membangun amanah Allah ini untuk menjadi generasi Rabbani yang istimewa daripada menjadi seseorang yang diberi kesempatan untuk membantu membangun sebuah negara menjadi lebih baik tapi keluarganya teracuhkan. Saya akan lebih memilih menjadi sosok ibu yang sederhana daripada menjadi wanita karir dengan penghasilan besar namun tidak bisa membentuk kontak & ikatan yang kuat dengan putra-putrinya. Sungguh karena saya ingin semua bermula baik dari madrasah utama saya. Karena saya tidak mau menelantarkan amanah itu.

Teringat tentang keluhan seorang dokter wanita di tempat saya bekerja. Seorang dokter spesialis dengan jam terbang tinggi. Karena terlalu sibuknya di luar rumah dari pagi sampai petang, maka apakah yang dituainya? Suatu ketika saat anak sulungnya merasa kelaparan, maka dengan lugunya dia bilang kepada sang ibu “Suster ambilkan saya makan!”. Terkejutlah sang dokter mendengarnya. Maka balik ditanyalah si anak siapa yang dia panggil suster dan dengan entengnya si anak menjawab “KAMU…”

Astaghfirullah, sungguh saya tidak ingin menjadi seperti itu. Meniti karir di luar namun melupakan madrasah utamanya yang semestinya harus dijaga. Apapun alasan yang bisa diberikan untuk mengutamakan karir, maka saya tidak akan menerimanya jika kondisi di dalam rumah saya tidak bisa terorganisir dengan baik. Ada seorang teman sedang menyemangati istrinya untuk selalu melanjutkan pendidikan sampai jenjang tinggi. Dia ceritakan sebuah kisah: ada seorang mahasisiwi di sebuah kampus negeri. Setelah menyelesaika S1 nya maka dia mencoba ikut beasiswa S2 dan ternyata dia diterima. Namun setelah dipikir-pikir, dia memutuskan tidak mengambil beasiswa tersebut. Salah satu dosennya heran terhadap keputusan mahasisiwinya itu dan kemudian ditanyalah mengapa dia tidak menerima kesempatan bagus itu? Ternyata mahasisiwi tersebut takut menelantarkan keluarga dan anak-anaknya. Maka jawaban bijak yang dikemukakan sang dosen adalah “dimana  kamu pertama kali diajar seseorang dengan pendidikan S3?” “Di kampus ini pak…” “nah sama, saya juga dulu pertama kali diajar seseorang dengan pendidikan S3 baru setelah kuliah di kampus ini. Pernahkah terlintas dalam pikiranmu kalau kamu melanjutkan pendidikan sampai S3 maka anak-anakmu akan bertemu pertama kali dengan sesorang yang berpendidikan S3 dari dalam rumahnya sendiri??” Subhanallah suatu cerita yang penuh dengan motivasi.g Namun saya menanggapinya sedikit berbeda. Semua hal di atas akan sangat baik dijalani asal kita mampu tetap menjalankan dan memperhatikan keseimbangan di dalam rumah tangga kita. Maaf, untuk saat ini saya pribadi belum mampu menjadi yang seimbang seperti itu. Yah, mungkin berbeda dengan anda…

Saya hanya mengingatkan kita sebagai wanita agar benar-benar memperhatikan fitrah kita yang sebenarnya. Jangan hanya sibuk beraktifitas di luar tetapi ketika sampai di rumah maka sering terlalu capek untuk mengurus segalanya. Menyerahkan semuanya pada pembantu. Tidak sempat mendengar keluh kesah dan ocehan si kecil. Jika semua itu terjadi maka “Engkaukah yang pantas aku panggil ibu???”

6 Tanggapan to “> MENJADI WANITA KARIR JANGAN MELUPAKAN MADRASAH UTAMA”

  1. bundamahes 13 April 2010 pada 12:30 am #

    nice thread!
    jadi inget pangeranku, hiks…
    pokoknya kalo ikatan kerjaku dah slese aku mo brentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!

    betewe gambarnya lucu! digedein dikit donk!🙂

    • rista 13 April 2010 pada 3:21 pm #

      hiks..hiks…aku kayanya jg pengin memerankan housewife perfectly…
      btw gambarnya dah gk bisa digedein…pecah nanti…

  2. lelybundajazleen 20 April 2010 pada 2:15 am #

    to be honest..i just wanna be full time mom too…huhu..apalagi kalo inget amazing moment bareng si kecil yang harus kelewat tanpa kita..huahua…sakiiit hati banget…ternyata sama aja yah yang kita rasain.nangis mulu pas pertama ninggalin si kecil..

  3. chemo 8 Oktober 2010 pada 3:31 am #

    thank’s ya,,postingnya bikin aq sadar..:'(

  4. else agustina 20 Oktober 2011 pada 9:40 am #

    ijin share ya mbak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: