ANGKOT DAN UMPATAN

9 Apr

Teriknya Jakarta, padatnya kendaraan yang merayap, kotornya udara karena pembakaran beratus-ratus kendaraan terkadang membuat saya stress ketika harus terjebak macet saat berada di dalam kendaraan umum yang penuh dengan penumpang dan non air conditioner. Seringkali saya berpikir kalau mengalami hal ini setiap harinya selama tiga ratus enam puluh lima hari maka saya akan menjadi seseorang yang tertekan dan perlu pergi ke psikiater (he..he). Ya, kalau dipikir pasti ada benarnya. Kondisi seperti ini pasti akan meningkatkan tingkat kejadian stress dan penuaan dini di Jakarta.

Belum lagi ketika ada kendaraan yang maen selonong seenaknya. Mendahului kita dengan tidak tahu etika, tiba-tiba berhenti mendadak di depan kita, tiba-tiba berbelok tanpa warning yang tak jarang bikin kita sport jantung, lemas, dan kalap (pada sebagian orang). Bahkan tak jarang pula tiba-tiba ada penumpang  yang berceletuk “Mobil s*****n!!!”, “Awas ya gua sumpahin bakal nabrak tu angkot!”, dan masih banyak umpatan – umpatan yang lain yang kadang diiyakan oleh penumpang yang lain. Suatu ekspresi verbal yang dianggap biasa oleh sebagian orang. Iyalah, siapa sih yang  tidak emosi diperlakukan seperti itu? Tapi tidak bagi saya. Saya tidak pernah menganggap hal itu biasa. Bahkan ketika marah sekalipun.

Hati-hati, kata-kata kita sebagian adalah doa. Dan bagaimana ketika doa itu menjadi salah satu yang dikabulkan oleh Allah? Yakinkah kita akan puas ketika melihat angkot yang telah bikin ulah itu tiba-tiba benar mengalami kecelakaan? Ya sesaat mungkin anda akan mengalami sensasi letupan suatu dendam yang sudah terbalaskan. Tapi mungkin akan berubah 180o ketika (misalkan) anda mengetahui siapa saja yang ada di dalam angkot itu. Siapa saja munkin bisa saja berada di dalam angkot itu. Bisa saja ada tetangga kita yang sedang naik angkot itu untuk pergi ke pasar, bisa saja teman dekat kita yang akan pergi ke tempat kerjanya, bahkan tidak menutup kemungkinan ada anak kita yang akan menuju ke sekolahnya, ayah, ibu, istri, suami kita. Nah jika terjadi seperti itu, apa masih yakin anda puas melihat angkot itu mengalami kecelakaan? Apa anda masih akan mengumpat jika sebelumnya mengetahui siapa saja orang yang anda kenal baik ada di dalam angkot itu?

Karenanya berhati-hatilah dalam berucap. Ingat-ingatlah kemungkinan seperti itu sebelum mengumpat. Karena tidak akan kita mengumpat jika kita tahu yang  berada dalam angkot itu adalah orang-orang yang kita sayangi. Dan kita tak selalu tahu siapa saja yang berada dalam angkot itu.. maka berhati-hatilah…

2 Tanggapan to “ANGKOT DAN UMPATAN”

  1. Rakha 19 April 2010 pada 2:44 pm #

    Gini solusinya klo begitu,
    emosi memang harus dikontrol, tapi emosi ada batasnya, jika sampai kita emosi dan tercetuslah umpatan2 tsb,, biasakan dibelakangnya ditambahi doa2 positif
    Contoh : “Dasar Sopir nyomet, gak pake otak, mudah2an rejekinya seret,,” ditambahin “smoga keluarga dan anak keturunan saya diberikan kelancaran rejeki”

    cheers😀

  2. rista 21 April 2010 pada 4:44 am #

    hehe…yah lebih baik jika doanya diperbagus sekalian dunk…kalo itu mah setengah setengah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: